Pembangunan Pertanian Berkelanjutan

Konsep Pertanian Berkelanjutan

Kata “keberlanjutan” sekarang ini digunakan secara meluas dalam lingkup program pembangunan. Keberlanjutan dapat diartikan sebagai “menjaga agar suatu upaya terus berlangsung”, kemampuan untuk bertahan dan menjaga agar tidak merosot”. Technical Advisory Committee of the CGIAR (TAC/CGIAR 1988) menyatakan “pertanian berkelanjutan adalah pengelolaan sumber daya yang berhasil untuk usaha pertanian guna membantu kebutuhan manusia yang berubah sekaligus mempertahankan atau meningkatkan kualitas lingkungan dan melestarikan sumber daya alam”.

Banyak orang menggunakan definisi yang lebih luas dan menilai pertanian bisa dikatakan pertanian berkelanjutan jika (setelah Gips 1986) mencakup hal-hal berikut ini.

Mantap secara ekologis, yang berarti bahwa kualitas sumber daya alam dipertahankan dan kemampuan agroekosistem secara keseluruhan dari manusia, tanaman, dan hewan sampai organisme tanah ditingkatkan.

Bila berlanjut secara ekonomis, yang berarti bahwa petani bisa cukup menghasilkan untuk pemenuhan kebutuhan dan/atau pendapatan sendiri, serta mendapatkan penghasilan yang mencukupi untuk mengembalikan tenaga dan biaya yang dikeluarkan.

Adil, yang berarti bahwa sumber daya dan kekuasaan didistribusikan sedemikian rupa sehingga kebutuhan dasar semua anggota masyarakat terpenuhi dan hak-hak mereka dalam penggunaan lahan, modal yang memadai, bantuan teknis serta peluang pemasaran terjamin.

Manusiawi, yang berarti bahwa semua bentuk kehidupan (tanaman, hewan, dan manusia) dihargai.

Luwes, yang berarti bahwa masyarakat pedesaan mampu menyesuaikan diri dengan perubahan kondisi usaha tani yang berlangsung terus, misalnya pertambahan jumlah penduduk, kebijakan, permintaan pasar, dan lain-lain.

1.2. Pertanian Global : Laporan Sampai Saat Ini

Aspek ekonomi

Kinerja pertanian bisa dinilai secara parsial dengan membandingkan produksi pangan, bahan tersebut, dan bahan bakar kayu dengan kebutuhan untuk produk-produk ini dalam suatu daerah atau negara dan membandingkan tingkat pertumbuhan produksi pertanian dengan tingkat pertumbuhan penduduk.

Aspek ekologi

Menurut FAO, masalah lingkungan di negara-negara berkembang sebagian besar disebabkan karena eksploitasi lahan yang berlebihan, perluasan penanaman, dan penggundulan hutan. Beberapa daerah irigasi yang luas telah  dirusak  oleh  salinisasi.

Penggunaan pestisida dan pupuk buatan yang semakin meningkat juga menjadi penyebab munculnya masalah-masalah lingkungan. Khususnya degradasi kesuburan tanah dan langkanya bahan bakar kayu menunjukkan gawatnya situasi ini.

1.3. Kecenderungan Dalam Pertanian di Daerah Tropis

Pada mulanya di daerah tropis bergantung pada sumber daya alam, pengetahuan, keterampilan, dan institusi lokal. Sistem-sistem pertanian yang bermacam-macam dan khas setempat telah berkembang melalui proses mencoba-coba yang panjang dimana akhirnya ditemukan keseimbangan antara masyarakat dan basis sumber dayanya. Biasanya, produksi ditujukan pada keluarga dan masyarakat subsistem. Cara kerja sama antar anggota masyarakat telah dikembangkan dengan baik.

Sebagai respon terhadap pengaruh asing dan kebutuhan serta aspirasi yang semakin besar dari penduduk jumlahnya semakin meningkat, sistem pertanian di daerah tropis cenderung berubah ke salah satu dari dua keadaan ekstrem :

● penggunaan input luar secara besar-besaran; selanjutnya akan disebut (HEIA).

● pemanfaatan sumber daya lokal yang semakin intensif dengan sedikit atau sama sekali tidak menggunakan input luar, hingga terjadi degradasi sumber daya alam; selanjutnya disebut (LEIA).

1.4. Implikasi Bagi Keberlanjutan Pertanian

Dalam sistem LEIA yang berfungsi dengan baik, tanaman, pepohonan, tumbuhan perlu lainnya, dan hewan tidak hanya memiliki fungsi produktif, tetapi juga memiliki fungsi ekologis, seperti menghasilkan bahan organik, memompa unsur hara, membuat cadangan unsur hara dalam tanah, melindungi tanaman secara alami, dan mengendalikan erosi. Fungsi-fungsi ini menunjang keberlangsungan dan stabilitas usaha tani dan bisa dilihat sebagai penghasil input dalam.

Dalam sistem HEIA, penggantian fungsi-fungsi ekologis oleh manusia ini telah berjalan lebih jauh daripada yang terjadi dalam sistem LEIA. Keragaman diganti dengan keseragaman karena alasan efisiensi teknologi dan peluang pasar. Dalam jangka pendek, penggunaan input luar memungkinkan peningkatan intensitas penggunaan lahan yang cukup besar. Hal ini sangat berperan pada peningkatan produksi pangan secara global hingga pertengahan tahun 1980-an.

1.5. Fokus Penelitian dan Penyuluhan Pertanian Konvensional

Penelitian pertanian konvensional dengan biasanya pada lahan-lahan yang berpotensi tinggi, tanaman ekspor dan petani yang lebih mampu, telah memberikan hasil yang tidak terjangkau oleh sebagian besar petani dan dan tidak cocok untuk daerah LEIA. Hal ini antara lain disebabkan beberapa hal berikut ini.

  1. Fakus pada komoditas tunggal,tekanannya adalah maksimalisasi produksi komoditas tertentu dan bukannya produksi pertanian secara keseluruhan.
  2. Orientasi terutama pada pasar dan eksploitasi unsur hara, integrasi usaha tani ke dalam pasar nasional maupun internasional menimbulkan suatu penghabisan unsur hara netto jika unsur hara yang diambil tidak dapat dikembalikan lagi.
  3. Pengabaian dampak lingkungan, dengan diarahkan oleh prosedur penelitian dan tekanan politik untuk memusatkan pada produktivitas jangka pendek, penelitian pertanian cenderung mengesampingkan dampak lingkungan jangka panjang ke masa depan ataupun sektor-sektor yang lain.
  4. Pengabaian daerah tadah hujan dan sumber daya setempat, sampai sejauh ini penelitian konvensional sebagian besar mengabaikan daerah tadah hujan dan daerah pinggiran tempat usaha petani LEIA dan tanaman serta hewan lokal yang mendukung mata pencaharian mereka. Bias gender, tidak seperti usaha tani pada umumnya, penelitian pertanian cenderung ditangani oleh kaum laki-laki.
  5. Pengabaian pengetahuan lokal petani, pendekatan konvensional dari atas ke bawah pada pengembangan teknologi dalam lembaga penelitian pertanian hanya memberikan sedikit kesempatan pada ilmuwan untuk ebih mengenal kondisi, tujuan dan pengetahuan petani LEIA.
  6. Penekanan pada penelitian, kondisi produksi lembaga penelitian dan tempat percobaan tidak mencerminkan kondisi petani dan tidak mungkin mewakili kondisi pertanian tadah hujan yang sangat beragam.
  7. Penyebaran produksi yang tidak sempurna, pengembangan teknologi konvensional cenderung disusun berdasarkan disiplin bidang studi dan tidak menurut tingkat agregasi usaha tani.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s