LITERATUR PEMUPUKAN KACANG TANAH

LITERATUR UNTUK PERCOBAAN PRAKTIKUM PUPUK DAN PEMUPUKAN KACANG TANAH

Tanah Alfisol

Tanah Alfisol adalah tanah dimana terdapat penimbunana liat dihorison bawah (argilik) dan mempunyai kejenuhan basa (berdasarkan jumlah kation) yang tertinggi yaitu lebih dari 35% pada kedalaman 180 cm dari permukaan tanah.  Liat yang tertimbun dari horison bawah ini berasal dari horison diatasnya dan tercuci kebawah bersama dengan gerakan air (Hardjowigeno, 2003).

Tanah Alfisol terbentuk pada daerah beriklim hujan C, d dan E dengan curah hujan antara 800 – 2500 mm/thn, berbahan induk batu kapur, endapan taff vulkan, topografi berombak sampai berbukit.  Jenis tanah ini tersebar pada ketinggian 0 – 400 m diatas permukaan laut (Soepraptohardjo, 1969).

Dua prasyarat yang harus dimiliki tanah alfisols adalah (1) mineral liat kristalin sedang jumlahnya dan (2) terjadi akumulasi liat di horizon B yang jumlahnya memenuhi syarat horizon argilik atau kandik (Hardjowigeno, 1993).

Menurut Syarief (1986), bahwa daya menahan air dan permeabilitas sedang, kepekaan terhadap erosi sedang sampai besar, serta air pada keadaan ini merupakan faktor pembatas secara umum sifat fisiknya sedang sampai baik, sifat kimianya baik, sehingga nilai produktifitas tanahnya sedang sampai tinggi.

Pupuk

Dalam arti luas, pupuk adalah suatu bahan yang digunakan untuk mengubah sifat fisik, kimis, stsu biologi tanah sehingga menjadi lebih baik bagi pertumbuhan tanaman. Termasuk pemberian bahan kapur dengan maksud untuk meningkatkan pH tanah yang masam, pemberian legin bersama benih bersama benih tanaman kacang-kacangan dan pemberian pembenah tanah untuk memperbaiki sifat fisik tanah (Rosmarkan dan Yuwono, 2002).

Pupuk merupakan kunci dari kesuburan tanah karena berisi satu atau lebih unsur untuk menggantikan unsur yang habis terisap tanaman. Jadi, memupuk berarti menambah unsur hara ke dalam tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun) (Lingga, 2002).

Tanaman memerlukan sejumlah anasir hara dalam takaran cukup, seimbang dan sinambung untuk terus tumbuh dan berkembang, menyelesaikan daur hidupnya. Anasir hara tanaman ini diambil dari atmosfir dan system tanah. Paling sedikit ada 16 macam unsur hara yang diperlukan secara teratur untuk pertumbuhan vascular tanaman (Poerwowidodo, 1992).

Nitrogen (N)

Sebagian nitrogen tanah berada dalam bentuk N-Organik. Nitrogen organik (hasil fiksasi N-biologis, bahan tanaman dan kotoran hewan) yang dibenamkan dalam tanah merupakan N-organik yang tidak dapat diserap begitu saja oleh tanaman. Lebih lanjut dikatakan, jumlah N dalam tanah dapat bertambah akibat dari pemupukan N, fiksasi N-biologis, air hujan dan penambahan bahan organik, sedangkan N dapat berkurang karena pencucian, pemanenan, denitrifikasi dan volatilisasi (Hakim dkk, 1986).

Sumber utama nitrogen (N) adalah dari bahan organic dan pengikatan oleh mikroorganisme. Nitrogen umumnya diserap dalam bentuk NH4+ dan NO3-, tergantung dari jenis tanaman. Funsi nitrogen bagi tanamn adalah untuk memperbaiki pertumbuhan vegetatif dan pembentukan protein. Kekurangan unsure N menyebabkan tanaman menjadi kerdil, pertumbuhan akar terbatas, daun-daun kuning dan gugur (Hardjowigeno, 2003).

Nitrogen sangat jarang ditemui menjadi komponen pelican oleh karena wataknya yang mudah larut air. Watak ini juga menjadikan endapan-endapan nitrogen yang cukup banyak  hanya ditemui di daerah beriklim kering dan itupun terbtas secara setempat (Poerwidodo, 1992).

Nitrogen pada umumnya diserap tanaman dalam bentuk NH4+ (ammonium) dan NO3- (nitrat), senyawa ini diserap melalui akar ke daun selama proses asimilasi yang kemudian ditransformasikan dalam bentuk asam amino dan protein (Indranada, 1994.

Kekahatan atau defisiensi nitrogen menyebabkan proses pembelahan sel terhambat dan akibatnya menyusutkan pertumbuhan. Selain itu, kekahatan senyawa protein menyebabkan kenaika nisbah C/N, dan kelebihan karbohidrat ini akan meningkatkan kandungan selulosa dan lignin. Ini menyebabkan tanaman jagung yang kahat nitrogen tampak kecil, kering, tidak sukulen, dan sudut terhadap batang sangat runcing (Poerwowidodo, 1992).

Fosfor (P)

Paling sedikit ada empat sumber pokok fosfor untuk memenuhi kebutuhan akan unsur ini, yaitu pupuk buatan, pupuk kandang, sisa-sisa tanaman termasuk pupuk hijau dan senyawa asli unsur ini yang organic da anorganik yang terdapat dalam tanah (Buckman and Brady, 1992).

Fosfor pada tanaman berfungsi dalam pembelahan sel, pembentukan albumin, pembentukan dan pematangan buah, perkembangan akar, tahan terhadap penyakit dan lain-lain. Gejala kekurangan fosfor (P) dapat menyebabakan pertumbuhan tanaman kerdil karena pembelahan sel terganggu, daun-daun tidak sempurna serta mudah terserang penyakit. Kekurangan Pdalam tanah dapat disebakan  oleh jumlah P yang sedikit, sebagian besar terdapat dalam bentuk yang tidak dapat diamabil oleh tanaman, dan terjadi pengikatan (fiksasai) oleh Al pada tanah masam atau oleh Ca pada tanah alkalis (Hakim, dkk., 1986).

Bentuk P yang lain yang dapat diserap oleh tanaman adalah firofosfat dan metafosfat. Kedua bentuk ini misalnya terdapat dalam bentuk P dan K metafosfat. Tanaman juga menyerap P dalam bentuk fosfat organic, yaitu asam nukleat dan phytin. Kedua bentuk senyawa ini terbentuk melalui proses degradasi da dekomposisi bahan organik yang langsung diserap oleh tanaman (Anonim, 1991).

Ketersediaan fosfor dalam tanah ditentukan oleh banyak factor tetapi yang paling penting adalah pH tanah. Pada tanah yang ber pH rendah (masam), fosfor akan bereaksi dengan ion besi (Fe) dan aluminium (Al). reaksi ini akan membentuk besi fosfat atau aluminium fosfat yang sukar larut di dalam air sehingga tidak dapat digunakan oleh tanaman. Pada pH tanah yang tinggi (basa), fosfor akan bereaksi dengan ion kalsium. Reaksi ini akan membentuk kalium fosfat yang sifatnya sukar larut dan tidak dapat digunakan oleh tanaman. Dengan demikian tanpa memperhatikan pH tanah, pemupukan fosfor tidak akan berpengaruh bagi pertumbuhan tanaman (Novizan, 2002).

Gejala kekurangan P pada tanaman jagung dapat menjadikan pertumbuhan terhambat (kerdil), daun-daun/malai menjadi ungu atau coklat mulai dari ujung daun, dan juga pada jagung akan menyebabkan tongkol jagung menjadi tidak sempurna dan kecil-kecil (Hardjowigeno, 1993)

Kalium (K)

Berdasarkan ketersediaannya dalam tanah, unsur K dapat digolongkan dalam (1) bentuk segera tersedia, (2) lambat tersedia, dan (3) relative tidak tersedia. Kalium tersedia dijumpai segabai kalium dalam larutan tanah dan kalium yang dapat dipertukarkan. Kalium dalam larutan tanah lebih muda diserap oleh tanaman dan juga peka terhadap pencucian. Kalium dalam bentuk yang lambat tersedia biasanya terdapat pada tanah-tanah mineral 2 : 1. Kalium yang berasal dari pupuk akan difiksasi diantara kisi-kisi mineral tersebut sehingga menjadi kurang tersedia bagi tanaman. Dalam kondisi demikian maka akan mengurangi kehilangan K melalui pencucian. Selanjutnya K yang terjerap itu lambat laun akan diubah menjadi bentuk tersedia dan ini merupakan cadangan kalium tanah. Bentuk kaliu yang relatif tidak tersedia sebagian besar berasal dari kalium tanah mineral yang umumnya masih berada dalam mineral tanah seperti feldspar dan mika (Hakim dkk, 1986).

Tanaman menyerap kalium dalam bentuk K+ (umumnya pada tanaman muda). Kalium dijumpai dalam tanah dengan jumlah yang sangat kecil. Berbeda dengan unsur lainnya kalium tidak dijumpai dala bahan atau bagian tanaman seperti protoplasma, lemak dan glukosa. Kemampuan tanah untuk menyediakan kalium dapat diketahui dari susunan mineral yang erdapat dalam tanah. Namun, umumnya mineral leusit dan biotit yang merupakan sumber langsung dalam kalium bagitanaman (Soepardi, 1998).

Kalium sedikit peranannya dalam menyusun komponen tanaman. Berfungsi sebagai pengatur menkanisme fotositesis, translokasi, karbohidrat, sitesa protein dan lain-lain. Gejala kekurangan kalium akan menyebabkan pinggiran daun berwarna coklat yang dimulai dari daun tua, pada jagung ruasnya memendek dan tanaman tidak tinggi (Hardjowigeno, 2003).

Kapur (CaCO3)

Kapur banyak mengandung unsur Ca tetapi pemberian kapur ke dalam tanah umumnya bukan karena tanah kekurangan unsur Ca tetapi karena tanah terlalu masam. Oleh karena itu, tanah-tanah masam perlu dinaikkan pHnya agar unsur hara seperti P mudah diserap tanaman sehingga keracunan Al dapat dihindarkan (Hardjowigeno, 2003).

Selain pupuk, kapur (CaCO3) banyak digunakan untuk memperbaiki kwalitas tanah khususnya tanah-tanah yang berpH rendah (tanah masam). Guna pengapuran adalah untuk meikan pH tanh, menambah unsur Ca dan Mg, menambah ketersedian P dan Mo, mengurangi keracunan Fe, Mn, dan Al, memperbaiki kehidupan mikroorganisme dan pembentukan bintil akar (Lingga dan Marsono, 2001).

Pemberian kapur di dalam tanah tidak hanya memperbaiki sifat kimia tanah, tetapi juga mempengaruhi sifat fisik dan biologi tanah adalah berupa naiknya kadar Ca dan pH tanah, sehingga reaksi tanah mengarah kea rah netral. Pengaruh langsung terhadap biologi tanah, yaitu dengan naiknya pH tanah dan tersedianya beberapa hara yang dibutuhkan biologi tanah menyebabkan jasad hidup ini lebih muda memperoleh energi da materi dalam jumlah yang banyak, sejala dengan itu populasi dan aktivitas mikroorganisme pun meningkat dengan penambahan kapur. Pengaruh kapur terhadap sifat fisik tanah salah satunya adalah pengaruh terhadap struktur tanah (Hakim, dkk, 1986).

5 comments on “LITERATUR PEMUPUKAN KACANG TANAH

  1. Mungkin akan lebih bagus bila dilengkapi dg pemaparan Metode dan Dosis Pemupukan unt K Tanah. tk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s