PUPUK DAN PEMUPUKAN

TANAH ALFISOL

Tanah-tanah yang mempunyai kandungan liat tinggi di horison B (Horison argilik) dibedakan menjadi Afisol (pelapukan belum lanjut) dan Ultisol (pelapukan lanjut).  Alfisol kebanyakan ditemukan di daerah beriklim sedang, tetapi dapat pula ditemukan di daerah tropika dan subtropika terutama di tempat-tempa dengan tingkat pelapukan sedang (Hardjowigeno, 1993).

Alfisol ditemukan di daerah-daerah datar sampai berbukit.  Proses pembentukan Alfisol di Iowa memerlukan waktu 5000 tahun karena lambatnya proses akumulasi liat untuk membentuk horison argilik.  Alfisol terbentuk di bawah tegakan hutan berdaun lebar (Hardjowigeno, 1993).

Alfisol terbentuk dari bahan induk yang mengandung karbonat dan tidak lebih tua dari pleistosin.  Di daerah dingin hampir semuanya berasal dari bahan induk berkapur yang masih muda.  Di daerah basah bahan induk biasanya lebih tua daripada di daerah dingin (Munir, 1984).

Alfisol merupakan tanah yang subur, banyak digunakan untuk pertanian, rumput ternak, atau hutan.  Tanah ini mempunyai kejenuhan basa tinggi, kapasitas tukar kation tinggi, cadangan unsur hara tinggi (Hardjowigeno, 1993).

Pupuk dan Pemupukan

  1. Jenis dan Sifat Tanah

Nitrogen (N)

Sebagian nitrogen tanah berada dalam bentuk N-Organik. Nitrogen organik (hasil fiksasi N-biologis, bahan tanaman dan kotoran hewan) yang dibenamkan dalam tanah merupakan N-organik yang tidak dapat diserap begitu saja oleh tanaman. Lebih lanjut dikatakan, jumlah N dalam tanah dapat bertambah akibat dari pemupukan N, fiksasi N-biologis, air hujan dan penambahan bahan organik, sedangkan N dapat berkurang karena pencucian, pemanenan, denitrifikasi dan volatilisasi (Hakim dkk, 1986).

Konversi N organik ke bentuk N mineral (NH4+ dan NO3-) berlangsung melalui transformasi biokimia yang dilakukan oleh mikroorganisme yang dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti suhu, kelembaban dan pH tanah. Langkah pertama adalah amonifikasi yakni konversi N organik ke bentuk NH4+. Transformasi ini dilakukan oleh bakteri-bakteri heterotrof. Proses nitrifikasi yang mengubah NH4 ke NO3- dilakukan oleh dua kelompok bakteri autotrof yaitu nitrosomonas yang mengubah NH­4+ ke NO2- dan nitrobacter yang mengubah NO2- menjadi NO­3- (Samosir, 1994).

Nitrogen pada umumnya diserap tanaman dalam bentuk NH4+ (ammonium) dan NO3- (nitrat), senyawa ini diserap melalui akar ke daun selama proses asimilasi yang kemudian ditransformasikan dalam bentuk asam amino dan protein (Indranada, 1994).

Peranan utama nitrogen (N) bagi tanaman jagung adalah merangsang pertumbuhan secara keseluruhan khususnya batang, cabang, dan daun. Selain itu, nitrogenpun berpea penting dalam pembentukan zat hijau daun yang sangat berguna dalam proses fotosintesis (Lingga, 2000).

Kekahatan atau defisiensi nitrogen menyebabkan proses pembelahan sel terhambat dan akibatnya menyusutkan pertumbuhan. Selain itu, kekahatan senyawa protein menyebabkan kenaika nisbah C/N, dan kelebihan karbohidrat ini akan meningkatkan kandungan selulosa dan lignin. Ini menyebabkan tanaman jagung yang kahat nitrogen tampak kecil, kering, tidak sukulen, dan sudut terhadap batang sangat runcing (Poerwowidodo, 1992).

Urea termasuk pupuk nitrogen yang higroskopis. Urea mudah larut dalam air dan jika diberikan ke tanah maka mudah berubah menjadi amoniak dan karbondioksida. Pemberian urea pada tanah bias dilakukan 2-3 kali lebih efisien dengan dosis yang tidak terlalu tinggi karena jika demikian akan mengakibatkan daun akan terbakar (Lingga, 2000).

Posfor (P)

Paling sedikit ada empat sumber pokok fosfor untuk memenuhi kebutuhan akan unsur ini, yaitu pupuk buatan, pupuk kandang, sisa-sisa tanaman termasuk pupuk hijau dan senyawa asli unsur ini yang organic da anorganik yang terdapat dalam tanah (Buckman and Brady, 1992).

Unsur P diserap tanaman dalam bentuk ortofosfat primer H2PO4-. Menyusul kemudian dalam bentuk HPO42-. Spesies ion yang merajai tergantung dari pH system tanah-pupuk-tanaman, yang mempunyai ketersediaan tinggi pada pH 5,5 – 7. Kepekatan H2PO4- yang tinggi dalam larutan tanah memungkinkan tanaman mengangkutnya dalam takaran besar karena perakaran tanaman diperkirakan mempunyai 10 kali penyerapan tanaman untuk H2PO4- dibanding untuk HPO42- (Poerwowidodo, 1992).

Bentuk P yang lain yang dapat diserap oleh tanaman adalah firofosfat dan metafosfat. Kedua bentuk ini misalnya terdapat dalam bentuk P dan K metafosfat. Tanaman juga menyerap P dalam bentuk fosfat organic, yaitu asam nukleat dan phytin. Kedua bentuk senyawa ini terbentuk melalui proses degradasi dan dekomposisi bahan organik yang langsung diserap oleh tanaman (Anonim, 1993).

Ketersediaan fosfor dalam tanah ditentukan oleh banyak factor tetapi yang paling penting adalah pH tanah. Pada tanah yang ber pH rendah (masam), fosfor akan bereaksi dengan ion besi (Fe) dan aluminium (Al). reaksi ini akan membentuk besi fosfat atau aluminium fosfat yang sukar larut di dalam air sehingga tidak dapat digunakan oleh tanaman. Pada pH tanah yang tinggi (basa), fosfor akan bereaksi dengan ion kalsium. Reaksi ini akan membentuk kalium fosfat yang sifatnya sukar larut dan tidak dapat digunakan oleh tanaman. Dengan demikian tanpa memperhatikan pH tanah, pemupukan fosfor tidak akan berpengaruh bagi pertumbuhan tanaman (Novizan, 2002).

Fosfor dapat berpengaruh menguntungkan pada pembelahan sel dan pembentukan lemak serta albumin, pembungaan dan pembuahan, termasuk proses pembentukan biji, perkembangan akar, khususnya akar lateral dan akar halus berserabut, kekuatan batang, dan ketebalan tanaman terhadap penyakit tertentu (Buckman and Brady, 1992).

Gejala kekurangan P pada tanaman jagung dapat menjadikan pertumbuhan terhambat (kerdil), daun-daun/malai menjadi ungu atau coklat mulai dari ujung daun, dan juga pada jagung akan menyebabkan tongkol jagung menjadi tidak sempurna dan kecil-kecil (Hardjowigeno, 1993).

Kalium (K)

Berdasarkan ketersediaannya dalam tanah, unsur K dapat digolongkan dalam (1) bentuk segera tersedia, (2) lambat tersedia, dan (3) relative tidak tersedia. Kalium tersedia dijumpai segabai kalium dalam larutan tanah dan kalium yang dapat dipertukarkan. Kalium dalam larutan tanah lebih muda diserap oleh tanaman dan juga peka terhadap pencucian. Kalium dalam bentuk yang lambat tersedia biasanya terdapat pada tanah-tanah mineral 2 : 1. Kalium yang berasal dari pupuk akan difiksasi diantara kisi-kisi mineral tersebut sehingga menjadi kurang tersedia bagi tanaman. Dalam kondisi demikian maka akan mengurangi kehilangan K melalui pencucian. Selanjutnya K yang terjerap itu lambat laun akan diubah menjadi bentuk tersedia dan ini merupakan cadangan kalium tanah. Bentuk kalium yang relatif tidak tersedia sebagian besar berasal dari kalium tanah mineral yang umumnya masih berada dalam mineral tanah seperti feldspar dan mika (Hakim, dkk, 1986).

Tanaman menyerap kalium dalam bentuk K+ (umumnya pada tanaman muda). Kalium dijumpai dalam tanah dengan jumlah yang sangat kecil. Berbeda dengan unsur lainnya kalium tidak dijumpai dala bahan atau bagian tanaman seperti protoplasma, lemak dan glukosa. Kemampuan tanah untuk menyediakan kalium dapat diketahui dari susunan mineral yang erdapat dalam tanah. Namun, umumnya mineral leusit dan biotit yang merupakan sumber langsung dalam kalium bagitanaman. Gejala tanaman yang kekurangan kalium adalah daun menjadi mengerut atau kering terutama pada daun tua, walaupun tidak merata. Selanjutnya pada jagung yang mengalami kekurangan unsur ini akan terlihat bercak merah coklat serta daunnya akan mengering dan mati, buah tumbuhan tidak semprna, kecil dan serta tidak tahan simpan (Soepardi, 1983).

Aplikasi Pemupukan

Aplikasi penggunaan pupuk dilakukan dengan tiga cara, yaitu pemberian sebelum tanam, pada saat tanam dan setelah tanam.  Pemberian pupuk sebelum tanam meliputi beberapa metode, yaitu broadcast, broadcast incomparation, subsurface band.  Aplikasi pupuk pada saat tanam juga meliputi beberapa metode, yaitu subsurface band, seed band, dan surface band. Sedangkan aplikasi pupuk setelah tanam juga meliputi beberapa metode, yaitu top dressing dan side dressing (Sutanto, 2002).

Sebelum melakukan penanaman, tanah yang sudah diolah diberi pupuk dasar untuk menambah unsur hara di dalam tanah agar dapat diserap oleh tanaman.  Sebagai pyupuk dasar umumnya digunakan pupuk kandang dan jenis pupuk buatan seperti urea, TSP, dan KCl yang diberikan pada saat penanaman (Palungkun dan Asiani, 1991).

Pupuk Kompos

Kandungan pupuk kompos adalah bahan organik yang mencapai 18 % bahkan ada yang mencapai 59 %. Unsur lain yang dikandung oleh kompos adalah nitrogen, fosfor, kalsium, kalium dan magnesium. Manfaat bokhasi pada lahan pertanian yaitu : mampu menggantikan dan mengefektifkan penggunaan pupuk kimia (anorganik) sehingga biaya pembelian pupuk dapat ditekan, bebas dari biji tanaman liar (gulma), tidak berbau dan mudah digunakan dan memperbaiki derajat keasaman tanah, selain itu sangat berguna untuk menyuburkan tanaman (Suprapto, 1990).

Tanaman Jagung (Zea mays L)

Klasifikasi  morfologi Tanaman Jagung (Zea mays) menurut (Anonim, 1988).

Divisi               :  Spematophyta

Sub-Divisi       :  Angiospermae

Kelas               :  Dikotiledon

Ordo                :  Tripsaceae

Famili              :  Poaceae

Sub-Famili       :  Panicoideae

Genus              :  Zea

Spesies            :  Mays

Nama Ilmiah   :  Zea mays.

Tanaman jagung memilki empat macam akar, yakni akar tunggang, akar tunjang, akar lateral dan akar rambut. Akar utamanya keluar dari pangkal  batang berjumlah antara 20-30, sedangkan pada akar halusnya terdiri dari satu sel dan jumlahnya tak terhingga. Bulu-bulu akar ini tumbuhnya  dari ujung akar utama dan lateral. Akar tunggang dapat berkembang diatas permukaan tanah, yakni pada batang yang terendah. Akar ini berfungsi memperkuat tegaknya batang dan dapat menambah organ penghisap air dan garam-garam tanah (Anonim, 1988).

Daun tanaman jagung terdapat pada buku-buku tanaman dan terdiri atas tiga bagian, yakni pada kelopak dan daun berselang-selang antara barisan pada batang. Antara kelopak dan helaian daun terdapat lidah daun yang berbulu dan berlemak yang  dapat berfungsi untuk mencegah air yang masuk di antara kelopak daun-daun batang. Kelopak daun biasanya melingkar dan membungkus sebagian batang, sehingga kadang menutup keseluruhan batang hingga buku-bukunya tidak tampak. Helaian daun termasuk tipe linier dan didalamnya terdapat ibu tulang daun yang diukuti tulang daun lainnya dengan arah sejajar ibu tulang daun  (Anonim, 1993).

Batang jagung beruas-ruas yang jumlahnya bervariasi antara 10-40 ruas, umunya tidak bercabang kecuali ada beberapa yang bercabang atau beranak yang muncul dari pangkal batang, misalnya pada jagung manis. Panjang batang kira-kira  berkisar antara 60-300 cm tergantung dari tipe jagung. Ruas-ruas bagian atasnya berbentuk agak silinder, sedangkan bagian tengah batang terdiri dari sel-sel parensim dengan selubung pembuluh yang diselubungi oleh kulit yang keras yang merupakan lapisan epidermis (Anonim, 1993).

Tanaman jagung bersifat protandri, dimana bunga jantan umumnya tumbuh 1-3 hari sebelum munculnya rambut pada bunga betina. Oleh karena itu pada bunga jantan dan bunga betina terpisah, ditambah lagi dengan sifatnya yang protandri, maka jagung mengalami penyerbukan silang (Anonim, 1988).

Buah jagung disebut juga tongkol, panjangnya berkisar antara 8-42 cm dengan diameter 3-5 cm. setiap tongkol terdiri dari 10-14v deret, setiap tongkol terdiri dari kurang lebih 200-400 butir (Suprapto, 1997).

Syarat Tumbuh Tanaman Jagung

Iklim

Iklim yang dikehendaki oleh sebagian besar tanaman jagung (Zea mays L.) adalah daerah-daerah beriklim sedang hingga daerah beriklim tropis atau subtropics yang basah. Jagung dapat tumbuh dan berkecambah pada suhu optimum berkisar antara 30o-320 C dan suhu dibawah 400-440 C. Dapat berbunga yang berbentuk gandar dan membentuk putih jagung yang disebut rumput jagung (Suprapto, 1997).

Tanah

Tanaman jagung dapat tumbuh hampir diseluruh jenis tanah. Yang terpenting dan sangat berhubungan erat dangan hasil jagung adalah tersedianya N,P,K pada tanah tersebut. Untuk pertumbuhan yang lebih baik lagi, tanaman jagung memerlukan tanah yang gembur, subur dan kaya humus. Tanaman jagung dapat tumbuh di dataran rendah dan dataran tinggi yakni antara 0-1300 m di atas permukaan laut (Suprapto, 1990).

Komentar
  1. anbie mengatakan:

    MAS mnta daftar pustakanya lah…
    haha
    makasih…
    krm k e-mail ssaiia az yah mas…
    first.jgirl@yahoo.com

    makasih

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s