TINJAUAN PUSTAKA PEMUPUKAN

Tanah Alfisol

Alfisol merupakan tanah yang relatif masih muda, masih banyak mengandung mineral-mineral primer yang mudah lapuk, mineral liat kristalin dan kaya akan unsur hara yang tinggi pula.  Secara potensial termasuk jenis tanah yang subur dan sebagian besar dimanfaatkan untuk lahan pertanian (Munir, 1996).

Menurut Soil Taxonomy USDA (1999), alfisol adalah tanah-tanah dimana terdapat penimbunan liat di horison bawah (argilik) dan mempunyai kejenuhan basa (berdasarkan jumlah kation) tinggi yaitu lebih besar dari 35% pada kedalaman 180 cm dari permukaan tanah.  Liat yang tertimbun di horison bawah ini berasal dari horison di atasnya.  Tanah ini darei dulu termasuk tanah mediteran merah kuning sebagian (Hardjowigeno, 2003).

Penyebaran alfisol di Indonesia menurut Munir (1984), terdapat di pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Irian, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur dengan luas areal 12.749.000 hektar.  Penggunaan alfisol di Indonesia menurut Sarief (1986), diusahakan untuk menjadi persawahan (padi) baik tadah hujan maupun pengairan, perkebunan (buah-buahan), tegalan, dan padang rumput.  Hakim (1986), menyatakan bahwa luas areal tanah alfisol yang diusahakan untuk tanaman padi sawah seluas 350.000 hektar dengan hasil 3–4 per hektar pada daerah yang beririgasi.

Dua prasyarat yang harus dimiliki tanah alfisol adalah (1) mineral liat kristalin sedang jumlahnya dan (2) terjadi akumulasi liat di horison B yang jumlahnya memenuhi syarat horison argilik atau kandik (Hardjowigeno, 1993).

Pupuk

Pupuk merupakan material yang ditambahkan ke tanah atau tajuk tanaman untuk melengkapi ketersediaan unsur hara.  Saat ini dikenal 16 macam pupuk hara yang diserap oleh tanaman untuk menunjang kehidupannya.  Tiga diantaranya diserap dari udara, yakni Karbon (C), Oksigen (O), dan Hidrogen (H).  Sedangkan tiga belas mineral lainnya diserap dari dalam tanah yaitu Nitrogen (N), Fosfor (P), Kalium (K), Kalsium (Ca), Sulfur (S), Magnesium (Mg), Besi (Fe), Mangan (Mn), Boron (B), Seng (Zn), Tembaga (Cu), Mollibdenum (Mo), dan Khlor (Cl) (Novizan, 2002).

Klasifikasi pupuk dapat dilihat dari beberapa segi, yaitu (1) atas dasar pembentukannya yang terdiri dari pupuk alam dan pupuk buatan, (2) atas dasar kandungan unsur hara yang dikandungnya yang terdiri dari pupuk tunggal dan pupuk majemuk, (3) atas dasar susunan kimiawi yang mempunyai hubungan penting dengan perubahan-perubahan di dalam tanah (Hakim, 1986).

Waktu dan cara pemupukan pada tanaman palawija seperti tanaman kedelai adalah pupuk Fosfat, Kalium dan 50% Nitrogen dipakai sebagai pupuk dasar, diberikan satu hari sebelum/saat tanam.  Sedangkan pupuk susulan yaitu 50% sisa pupuk N diberikan 20 – 30 hari setelah tanam /menjelang tanaman berbunga (Anonim, 2004).

Sedangkan untuk tanaman jagung (Zea mays L) diberikan pupuk SP-36, KCl dan 1/3 bagian Urea dipakai sebagai pupuk dasar, diberikan dengan cara ditugal pada jarak 7 cm dari lubang benih dengan kedalamanan 10 cm.  Pupuk Urea dan SP-36 diberikan dalam satu lubang dan KCl pada lubang yang lain.  Setelah pupuk dimasukkan segera ditutup dengan tanah untuk mencegah penguapan pupuk.  Pupuk susulan pertama 1/3 bagian Urea diberikan pada waktu tanaman berumur 3 minggu.  Pupuk susulan kedua diberikan pada waktu tanaman berumur 5 minggu atau segera setelah keluar malai dan keluar rambut tongkol jangung (Anonim, 2004).

Nitrogen (N)

Sumber utama Nitrogen (N) adalah Nitrogen bebas (N2) di atmosfir, yang takarannya mencapai 78% volume, dan sumber lainnya senyawa-senyawa Nitrogen yang tersimpan dalam tubuh jasad.  N sangat jarang ditemukan oleh karena wataknya yang mudah larut dalam air (Porwidodo, 1992).

N diserap oleh tanaman sebagai NO3- dan NH4- kemudian dimasukkan kedalam semua asam amino dan protein (Indranada, 1994).  Ada juga bentuk pokok N dalam tanah mineral, yaitu Nitrogen Organik, bergabung dengan humus tanah; Nitrogen Amonium diikat oleh mineral lempung tertentu; dan Nitrogen Anorganik dapat larut dan senyawa nitrat (Buckman dan Brady, 1992).

N yang tersedia tidak dapat langsung digunakan, tetapi harus mengalami berbagai proses terlebih dahulu.  Pada tanah yang immobilitasnya rendah, Nitrogen yang ditambahkan akan bereaksi dengan pH tanah yang mempengaruhi proses Nitrogen.  Begitupula dengan proses denitrifikasi yang pada proses ini ketersediaan N tergantung dari mikroba tanah yang pada umumnya lebih menyukai senyawa dalam bentuk ion ammonium daripada ion nitrat (Jumin, 1992).

Kedelai memerlukan N dalam jumlah banyak.  Kedelai dapat menyediakan N sendiri melalui fiksasi oleh bakteri yang hidup dalam akar.  Di bawah kondisi yang menguntungkan, bintil akar terbentuk dalam waktu 1 minggu setelah biji ditanam.  Tetapi bakteri bintil akar baru mulai aktif mengikat N setelah 2 minggu berikutnya.  Oleh karena itu kedelai sering memberikan respon terhadap pemupukan N pada saat masih kecil.  Namun, seringkali kedelai dijumpai kurang memberikan respon terhadap pemupukan N yang berlebihan.  Hal sering mengakibatkan kemalasan bakteri dalam bintil akar dalam proses pengikatan N dari udara (Suprapto, 1998).

Fosfor (P)

Paling sedikit ada empat sumber pokok Fosfor (P) untuk memenuhi kebutuhan akan unsur ini, yaitu pupuk buatan, pupuk kandang, sisa-sisa tanaman termasuk pupuk hijau, dan senyawa asli unsur ini yang organik dan anorganik, yang terdapat dalam tanah (Buckman dan Brady, 1992).

Unsur P diserap tanaman dalam bentuk HPO42-.  Spesies ion yang dominan tergantung dari pH sistem tanah-pupuk-tanaman, yang mempunyai ketersediaan tinggi pada pH 5,5 – 7.  Kepekatan H2PO4- yang tinggi dalam larutan tanah memungkinkan tanaman mengangkutnya dalam takaran besar karena perakaran tanaman diperkirakan mempunyai 10 kali penyerapan tanaman untuk H­PO4- dibanding untuk HPO42- (Poerwidodo, 1992).

Ketersediaan P di dalam tanah ditentukan oleh banyak faktor tetapi yang paling penting adalah pH tanah.  Pada tanah ber-pH rendah (asam), P akan bereaksi dengan ion besi (Fe) dan Aluminium (Al).  Reaksi ini akan membentuk besi fosfat dan aluminium fosfat yang sukar larut di dalam air sehingga tidak dapat digunakan oleh tanaman.  Pada tanah ber-pH tinggi (basa), P akan bereaksi dengan ion kalsium.  Reaksi ini membentuk kalsium fosfat yang sifatnya sukar larut dan tidak dapat digunakan oleh tanaman.  Dengan demikian, tanpa memperhatikan pH tanah pemupukan fosfor tidak akan berpengaruh bagi pertumbuhan tanaman (Novizan, 2002).

Kedelai memerlukan P dalam jumlah yang relatif banyak.  P dihisap tanaman sepanjang masa pertumbuhannya.  Periode terbesar penggunaan P dimulai pada masa pembentukan polong sampai kira-kira 10 hari sebelum biji berkembang penuh.  Kekurangan P pada kebanyakan tanaman terjadi sewaktu tanaman masih muda, oleh karena belum adanya kemampuan yang seimbang antara penyebaran P oleh akar dan P yang dibutuhkan.  Fungsi unsur P antara lain merangsang perkembangan akar, sehingga tanaman akan lebih tahan terhadap kekeringan, mempercepat masa panen dan menambah nilai gizi biji (Suprapto, 1998).

Kalium (K)

Menurut Buckman dan Brady (1992) berbagai bentuk Kalium (K) dalam tanah digolongkan atas dasar ketersediaannya menjadi tiga golongan besar, yaitu bentuk yang relatif tidak tersedia.  Senyawa yang mengandung sebagian besar bentuk K ini adalah feldspat dan mika.  Mul Mulyani (1999), menyatakan bahwa sumber-sumber K adalah beberapa jenis mineral, sisa-sisa tanaman jasad renik, air irigasi serta larutan dalam tanah, dan pupuk buatan.

Unsur ini diserap tanaman dalam bentuk ion K+ dan dapat dijumpai di dalam tanah dalam jumlah yang bervariasi, namun jumlahnya dalam keadaan tersedia bagi tanaman biasanya kecil.  K yang ditambahkan kedalam tanah dalam bentuk garam-garam mudah larut seperti KCl, K2SO4, KNO3, dan K-Mg-SO4 (Indranada,1994).   Mekanisme penyerapan K mencakup aliran massa, konveksi, difusi, dan serapan langsung dari permukaan zarah tanah (Poerwidodo, 1992).

Di dalam tanah, ion K bersifat sangat dinamis dan juga mudah tercuci pada tanah berpasir dan tanah dengan pH yang rendah.   Sekitar 1 – 10 % terjebak dalam koloid tanah karena kaliumnya bersifat positif.   Bagi tanaman, ketersediaan kalium pada posisi ini sangat lambat.   Kandungan kalium sangat tergantung dari jenis mineral pembentuk tanah dan kondisi cuaca setempat.   Persediaan kalium di dalam tanah dapat berkurang karena tiga hal, yaitu pengambilan kalium oleh tanaman, pencucian kalium oleh air, dan erosi tanah (Novizan,2002).

Kedelai memerlukan K dalam jumlah yang relatif besar.  Selama pertumbuhan vegetatif K diserap dalam jumlah yang relatif besar, kemudian agak menurun setelah biji mulai terbentuk dan akhirnya penyerapan hampir tidak terjadi kira-kira 2 – 3 minggu sebelum biji masak penuh.  Namun demikian biji kedelai mengandung K yang besar berkisar 60% dari jumlah K yang terdapat dalam tanaman dibanding biji jagung yang hanya mengandung 25% K.  Fungsi utama K antara lain, membantu perkembangan akar, membantu proses pembentukan protein, menambah daya tahan tanaman terhadap penyakit dan merangsang pengisian biji (Suprapto, 1998).

Syarat Tumbuh Tanaman Kedelai (Glycine max)

Iklim

Kedelai (Glycine max) sebagian besar tumbuh di daerah yang beriklim tropis dan subtropis.  Kedelai dapat tumbuh baik di tempat yang berhawa panas, di tempat-tempat yang terbuka dan bercurah hujan 100 – 400 mm3 per bulan.  Oleh karena itu, kedelai kabanyakan ditanam di daerah yang terletak kurang dari 400 m di atas permukaan laut dan jarang sekali ditanam di daerah yang terletak kurang dari 600 m di atas permukaan laut.  Jadi tanaman kedelai akan tumbuh bakik, jika ditanam di daerah beriklim kering.

Volume air yang terlalu banyak tidak menguntungkan bagi tanaman kedelai, karena akan mengakibatkan akar membusuk.  Banyaknya curah hujan juga sangat mempengaruhi aktivitas bakteri tanah dalam menyediakan Nitrogen.  Namun ketergantungan ini dapat diatasi, asalkan selama 30 – 40 hari suhu di dalam dan di permukaan tanah pada musim panas sekitar 35o – 39oC.  Hasil observasi ini menunjukkan bahwa pengaruh curah hujan, temperatur, dan kelembapan udara terhadap pertumbuhan tanaman kedelai di sepanjang musim adalah sekitar 60 – 70% (AAK, 2002).

Tanah

Seperti halnya jagung, kedelai (Glycine max) tidak menuntut struktur tanah khusus sebagai suatu persyaratan tumbuh.  Bahkan pada kondisi lahan yang kurang subur atau agak masam pun kedelai dapat tumbuh dengan baik, asal tidak sampai tergenang air, sebab genangan air tersebut akan membuat akar dan cabang tanaman menjadi busuk.

Toleransi pH yang baik sebagai syarat tumbuh yaitu antara 5,8 – 7, namun pada tanah dengan pH 4,5 pun kedelai masih dapat tumbuh baik.  Dengan menambah kapur 2 -4 ton per hektar, pada umumnya hasil panen dapat ditingkatkan.

Kedelai dapat tumbuh baik pada berbagai jenis tanah asal drainase dan aerasi tanah cukup baik.  Tanah-tanah yang cocok yaitu alluvial, regosol, grumosol, latosol, dan andosol.  Pada tanah-tanah padzolik merah kuning dan tanah yang mengandung banyak pasir kwarsa, pertumbuhan kedelai kurang baik, kecuali bila diberi tambahan pupuk organik atau kompos dalam jumlah yang cukup (AAK, 2002).

Komentar
  1. yusran akbar mengatakan:

    tq. daftar pustakanya ada tidak??

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s